KECERDASAN SOSIAL (SOCIAL INTELLIGENCE)

SOCIAL INTELLIGENCE

Ada berbagai jenis kecerdasan yang mempengaruhi kesuksesan seseorang. Sebagian masyarakat menganggap kecerdasan intelektual-lah yang paling berpengaruh. Padahal, terdapat sebuah kecerdasan yang sangat ampuh untuk membantu seseorang menjadi sukses, kecerdasan ini disebut kecerdasan sosial.

Image

Kecerdasan sosial merupakan kecerdasan yang mencakup interaksi kelompok dan erat kaitannya sosialisasi. Kemampuan untuk mengenal diri sendiri dan untuk mengetahui orang lain adalah bagian yang tak terpisahkan dari kondisi manusia.
Menurut Buzan : kecerdasan sosial adalah ukuran kemampuan diri seseorang dalam pergaulan di masyarakat dan kemampuan berinteraksi sosial dengan orang-orang di sekeliling atau sekitarnya.
Suean Robinson Ambron (1981) : mengartikan sosialisasi itu sebagai proses belajar yang membimbing seseorang ke arah perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif. (Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, hal.123).
Stephen Jay Could, On Intelligence, Monash University : (1994) : menjelaskan bahwa kecerdasan sosial merupakan suatu kemampuan untuk memahami dan mengelola hubungan manusia. Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. (Ubaydillah, diakses dari http://www.e-psikologi.com).
Menurut Amstrong, (1994) : Komponen penting membangun kecerdasan sosial (social intelegence) adalah komunikasi dan pendidikan. Kecerdasan sosial adalah kematangan kesadaran pikiran dan budi pekerti untuk berperan secara sosial dalam kelompok atau masyarakat. (dr. Rinaldi Nizar, sp. Ank, diakses darihttp://www.infonarkoba.com).
Pakar psikologi pendidikan Gadner (1983) : menyebut kompetensi sosial itu sebagai social intellegence atau kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial merupakan salah satu dari sembilan kecerdasan (logika, bahasa, musik, raga, ruang, pribadi, alam, dan kuliner) yang berhasil diidentifikasi oleh Gadner. (Sumardi, diakses dari http://www.kompas.com)
Menurut definisi asli Edward Thorndike : kecerdasan sosial adalah kemampuan untuk memahami dan mengelola pria dan wanita, anak laki-laki dan perempuan, untuk bertindak bijaksana dalam hubungan manusia. Hal ini setara dengan kecerdasan interpersonal, salah satu jenis kecerdasan yang diidentifikasi dalam Howard Gardner ‘s Teori kecerdasan ganda , dan erat terkait dengan teori pikiran .
Menurut Sean Foleno : kecerdasan sosial adalah kemampuan seseorang untuk memahami dirinya atau lingkungannya secara optimal dan bereaksi dengan tepat untuk melakukan sosial sukses.
Definisi Teoritis :
Kecerdasan sosial adalah kemampuan yang mencapai kematangan pada kesadaran berpikir dan bertindak untuk menjalankan peran manusia sebagai makhluk sosial di dalam menjalin hubungan dengan lingkungan atau kelompok masyarakat.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat dipahami bahwa kecerdasan sosial sangatlah penting dalam menunjang kehidupan bermasyarakat, sukses tidak identik dengan kemampuan IQ, karena sesungguhnya kecerdasan sosial-lah yang sangat berperan besar dalam kehidupan. Banyak orang yang IQ nya diatas rata-rata mampu menggapai kesuksesan dengan meningkatkan kemampuan social intelligence ini.
Komponen dan Indikator Social Intelligence :
a. SI (Social Intelligence) internal :

  • Keinginan untuk bersosial dari dalam diri
  • Menjalin hubungan yang baik dengan orang lain
  • Mengorbankan kepentingan diri demi orang lain

b. SI (Social Intelligence) eksternal :

  • Adanya pengaruh untuk bersosialisasi
  • Menyelesaikan permasalahan dalam berinteraksi Sosial
  • Bersosial karena adanya faktor yang lain (supaya mendapat sanjungan dan pujian dari orang lain)

Model Social Intelligence Menurut Para Ahli :

Pada tahun 2005, Karl Albrecht mengusulkan sebuah model social intelligence yang terdiri dari lima poin dalam bukunya Social Intelligence: Ilmu Baru Sukses, yaitu “SPACE” :
1) Situational awareness (kesadaran Situasional)
2) Presence (Kehadiran)
3) Authenticity (Keaslian)
4) Clarity (Kejelasan)
5) Empathy (Empati)
Penulis sains populer Daniel Goleman : mengusulkan bahwa kecerdasan sosial terdiri dari:

  • kesadaran sosial (termasuk empati dan kognisi sosial )
  • fasilitas sosial (termasuk sinkroni, presentasi-diri , pengaruh , dan kepedulian)

Pengaruh Social Intelligence terhadap Kesuksesan :

Sosial IQ adalah ukuran kecerdasan sosial. IQ Sosial didasarkan pada 100 titik skala, dimana 100 adalah skor rata-rata dan 140 (di atas 140) dianggap sangat tinggi. Sosial IQ diukur dengan teknik tanya jawab. Orang dengan IQ sosial yang rendah akan dianggap anak-anak dan belum dewasa, bahkan jika orang yang berusia dewasa. Cara yang baik untuk mengukur IQ Sosial adalah dengan menggunakan sistem IQ dasar, disesuaikan dengan keterampilan sosial. Kebanyakan orang memiliki IQ sosial 85-115.
Orang dengan IQ sosial di bawah 80 mungkin memiliki gangguan spektrum autisme, seperti sindrom Asperger dan skizofrenia. Orang-orang ini mungkin mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan memerlukan pelatihan keterampilan sosial atau dukungan tambahan dari spesialis jiwa. Orang-orang ini sulit mendapatkan pekerjaan karena mereka tidak memiliki komunikasi interpersonal yang diperlukan dan keterampilan sosial untuk sukses dalam angkatan kerja. Orang-orang ini dapat bekerja dengan baik dalam pekerjaan meja kantor, pekerjaan rumah atau pekerjaan yang tidak memerlukan banyak interaksi, seperti konstruksi.
Orang dengan IQ sosial atas 120 dianggap sangat sosial terampil dan menyesuaikan diri dengan baik, dan bisa bekerja dengan baik dengan pekerjaan yang melibatkan kontak langsung dan komunikasi dengan orang-orang.

Image

Referensi :

http://www.komunitasbisnisindonesia.com/2013/07/kecerdasan-sosial.html

Pentingnya Mengembangkan Image

Eksistensi manusia sebagai makhluk sosial dituntut untuk bisa menjalin interaksi dengan sesama. Menjalin hubungan dengan sesama ini bahkan diakui oleh banyak ahli di bidang psikologi sebagai kebutuhan yang semestinya dapat dipenuhi dengan baik. Bila tidak, manusia akan mengalami banyak gangguan dalam kejiwaannya. Hal ini juga diakui oleh Daniel Goleman, dalam sebuah bukunya yang berjudul Social Intelligence.

Image

Dalam bukunya ini, Daniel Goleman juga mengeksplorasi kecerdasan sosial sebagai ilmu baru dengan implikasi yang mengejutkan terhadap interpersonal, seperti reaksi antar – individu dan mengatur gerak hati yang membentuk hubungan baik antar – individu. Selain itu, dia juga mengakui bahwa setiap individu mempunyai pembawaan yang integral, seperti kerja sama, empati, dan sifat mementingkan kepentingan orang lain.

Image

Dalam konteks keindonesiaan, UU Guru dan Dosen yang telah disahkan oleh DPR pada Desember 2005, sesungguhnya telah menyampaikan sebuah kenyataan bahwa seorang guru dan dosen harus memiliki kecerdasan sosial agar proses pendidikan di Indonesia tidak mengabaikan hal yang penting ini. Apalagi bila kita menengok ke belakang, lebih tepatnya pada masa-masa krisis multidimensi yang telah melanda Indonesia pada tahun 1997. Dalam masa tersebut, betapa kita semua menyaksikan bahwa sebagian masyarakat Indonesia telah kehilangan kearifan-kearifan sosial yang agung. Misalnya, betapa sikap untuk bisa bertoleransi kepada orang lain telah tergerus sedemikian rupa; kemampuan berempati entah tinggal seberapa tipisnya; kemampuan bekerja sama dan semangat untuk bisa menolong serta berbagi kepada sesama telah dikalahkan oleh sifat egois atau bahkan emosi yang tak terkendali.

Dewasa ini publik juga mulai menyadari bahwa kecerdasan sosial itu sangat penting agar seseorang bisa sukses dalam meniti karier, baik itu usaha secara mandiri maupun bekerja di sebuah lembaga atau perusahaan. Kesadaran ini berangkat dari sebuah kenyataan bahwa banyak orang yang sukses dalam kariernya ternyata bila diamati ia memang memiliki kecerdasan sosial yang bagus. Misalnya, mampu menjalin kerja sama, mempunyai rasa empati, atau piawai dalam menjalin komunikasi.

Demikian pula dengan hasil penelitian jangka panjang terhadap 95 Mahasiswa Harvard lulusan tahun 1940-an. Puluhan tahun kemudian, dalam penelitian tersebut dinyatakan bahwa mereka yang saat kuliah dulu mempunyai kecerdasan intelektual tinggi, namun mereka memiliki sifat egois, angkuh, atau tampak kurang dalam pergaulan, ternyata hidup mereka tidak terlalu sukses (berdasarkan gaji, produktivitas, dan status bidang kerja) bila dibandingkan dengan mereka yang kecerdasan intelektualnya biasa saja, tetapi supel dalam pergaulan, mempunyai banyak teman, bisa berempati, pandai berkomunikasi, dan tidak temperamental.

Terkait dengan hasil penelitian tersebut, kita juga sering menyaksikan dalam lingkungan tempat tinggal kita. Tidak jarang seseorang yang kita pandang mempunyai kecerdasan lebih di kampusnya, ketika diminta pendapatnya dalam sebuah musyawarah mengenai suatu masalah yang terjadi, tampak dia kesulitan sekali menyampaikan pendapatnya secara runtut dan baik. Hal ini bisa terjadi bukan karena orang tersebut tidak mempunyai kecerdasan intelektual yang baik, namun kecerdasan sosialnya kurang dikembangkan dengan baik sehingga ia mengalami kegagapan ketika dihadapkan pada masalah yang sebenarnya dalam lingkungan sosial.

Demikian pula dengan pengalaman penulis yang mengumpulkan beberapa remaja untuk dilibatkan dalam sebuah kegiatan masyarakat untuk mengelola pendidikan anak-anak di luar sekolah. Mereka yang penulis ajak adalah beberapa siswa SMP, SMU, maupun mahasiswa. Ternyata, ada seorang yang penulis anggap tidak mempunyai kecakapan dalam kegiatan tersebut dan akhirnya kini sama sekali tidak bisa aktif sebagaimana teman sebayanya. Tahukah pembaca siapakah dia? Ternyata, dia adalah satu-satunya anak yang sejak di SD selalu menduduki peringkat pertama dalam rapor sekolahnya.

Sungguh, ini sebuah kenyataan yang patut untuk direnungkan. Seorang remaja yang penulis ceritakan di atas memang mempunyai kecerdasan intelektual yang tinggi. Ini terbukti dari nilai rapornya yang selalu mendapatkan peringkat pertama di sekolah. Namun, nyaris penulis belum pernah melihatnya terlibat bermain dengan teman-teman sebayanya. Ketika penulis tanyakan kepada saudaranya, katanya ia di rumah sedang belajar. Begitu pula ketika penulis menanyakan pada beberapa kali kesempatan yang lain. Jawabannya tetap sama, yakni sedang belajar.

Penulis memang bangga dan ikut senang apabila mendapati anak-anak atau remaja yang rajin belajar dan mendapatkan prestasi belajar yang baik di sekolah atau di kampusnya. Barangkali tidak hanya penulis, segenap orangtua pun merasa bangga dan sangat senang. Namun, apabila kecerdasan intelektual yang terus-menerus dikembangkan dan mengabaikan kecerdasan yang lain, dalam hal ini termasuk kecerdasan sosial, sungguh penulis merasa prihatin.

Mengapa penulis merasa prihatin? Penulis merasa prihatin sesungguhnya bukan hanya karena hasil penelitian terhadap 95 mahasiswa alumni Harvard sebagaimana di atas, namun lebih karena ada yang dikorbankan dalam masa tumbuh dan kembang anak-anak apabila hanya kecerdasan intelektualnya saja yang dipacu untuk dikembangkan secara maksimal. Mengapa penulis memakai istilah dikorbankan? Sebab, secara eksistensi, manusia sesungguhnya diciptakan oleh Tuhan bukan semata sebagai makhluk yang mempunyai kecerdasan intelektual, tetapi manusia adalah juga makhluk sosial (di samping juga manusia adalah makhluk spiritual yang membutuhkan hubungan dengan Tuhannya). Dengan demikian, secara psikologis, manusia juga membutuhkan orang lain, bila ini terhambat, maka secara kejiwaan juga akan terganggu.

Di sinilah sesungguhnya pentingnya mengembangkan kecerdasan sosial pada anak-anak. Sangat dibenarkan apabila orangtua memacu anak-anaknya agar mempunyai kecerdasan intelektual yang baik. Namun, jangan sampai mengembangkan kecerdasan intelektual itu hingga melupakan untuk mengembangkan kecerdasan yang lainnya : yang dalam hal ini adalah kecerdasan sosial. Orangtua tidak salah apabila memberikan les pelajaran ini dan itu sebagai tambahan di luar sekolah bagi anak-anaknya agar kecerdasan intelektualnya dapat terpacu dengan baik. Namun, orangtua harus menyediakan ruang dan waktu bagi anak-anaknya agar kecerdasan sosialnya dapat pula berkembang dengan baik.

Referensi :

http://www.wikimu.com/News/Print.aspx?id=18888

Lima Dimensi Kunci dalam Kecerdasan Sosial

Image

Di suatu pagi yang cerah di sebuah gedung perkantoran yang menjulang, saya bergegas memasuki sebuah lift yang sudah penuh sesak terisi. Terlihat wajah-wajah segar dengan semangat pagi untuk segera menyambut tugas yang sudah menanti. Di dalam lift, semua terdiam, mungkin benak mereka tengah dipenuhi dengan beragam rencana yang hendak didapuk pagi itu. Mendadak – sekonyong-konyong – bau tak sedap merebak di ruang lift yang sempit dan penuh sesak itu. Segera semua penghuni lift menutup hidungnya, ada yang dengan tisu, dengan saputangan, atau dan dengan jari-jarinya.

Saya tak tahu siapa yang di pagi nan cerah itu, di sebuah lift yang penuh sesak, dan dengan tanpa rasa dosa, mengeluarkan gas dengan amat sempurna dari perutnya. Sebuah serangan pagi yang mendadak membuat semangat saya seperti lenyap dilumat oleh bau gas yang amat menyengat. Siapapun orangnya, ia mungkin termasuk golongan orang yang memiliki kecerdasan sosial yang pas-pasan.

Kecerdasan sosial (atau social intelligence) kini tampaknya kian menduduki peran yang amat penting ketika kita hendak membangun sebuah relasi yang produktif nan harmonis. Relasi kita dengan kerabat, dengan tetangga, dengan rekan kerja atau juga dengan atasan mungkin bisa berjalan dengan lebih asyik kalau saja kita mampu mendemonstrasikan sejumlah elemen penting dalam kecerdasan sosial.

Dalam konteks itulah, kehadiran buku bertajuk Social Intelligence : The New Science of Success karya Karl Albrecht ini patut disambut dengan penuh antusiasme (buku yang amat memikat ini telah diterjemahkan ke dalam edisi bahasa Indonesia oleh Penerbit PPM dengan judul Cerdas Bergaul : Kunci Sukses dalam Bisnis dan Masyarakat).

Image

Secara garis besar, Albrecht menyebut adanya lima elemen kunci yang bisa mengasah kecerdasan sosial kita, yang ia singkat menjadi kata SPACE. Kata S merujuk pada kata situational awareness (kesadaran situasional). Makna dari kesadaran ini adalah sebuah kehendak untuk bisa memahami dan peka akan kebutuhan serta hak orang lain. Orang yang tanpa rasa dosa mengeluarkan gas di lift yang penuh sesak itu pastilah bukan tipe orang yang paham akan makna kesadaran situasional. Demikian juga orang yang merokok di ruang ber AC atau yang merokok di ruang terbuka dan menghembuskan asap secara serampangan pada semua orang disekitarnya.

Elemen yang kedua : adalah presense (atau kemampuan membawa diri). Bagaimana etika penampilan Anda, tutur kata dan sapa yang Anda bentangkan, gerak tubuh ketika bicara dan mendengarkan adalah sejumlah aspek yang tercakup dalam elemen ini. Setiap orang pasti akan meninggalkan impresi yang berlainan tentang mutu presense yang dihadirkannya. Anda mungkin bisa mengingat siapa rekan atau atasan Anda yang memiliki kualitas presense yang baik dan mana yang buruk.

Elemen yang ketiga : adalah authenticity (autensitas) atau sinyal dari perilaku kita yang akan membuat orang lain menilai kita sebagai orang yang layak dipercaya (trusted), jujur, terbuka, dan mampu menghadirkan sejumput ketulusan. Elemen ini amat penting sebab hanya dengan aspek inilah kita bisa membentangkan berjejak relasi yang mulia nan bermartabat.

Elemen yang keempat : adalah clarity (kejelasan). Aspek ini menjelaskan sejauh mana kita dibekali kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan ide kita secara renyah nan persuasif sehingga orang lain bisa menerimanya dengan tangan terbuka. Acap kita memiliki gagasan yang baik, namun gagal mengkomunikasikannya secara cantik sehingga atasan atau rekan kerja kita ndak berhasil diyakinkan. Kecerdasan sosial yang produktif barangkali memang hanya akan bisa dibangun dengan indah manakala kita mampu mengartikulasikan segenap pemikiran kita dengan penuh kejernihan dan kebeningan. (Saya sendiri sudah pernah mengulas teknis mengartikulasikan gagasan secara efektif ini, dan ulasannya bisa dibaca disini).

Elemen yang kelima : adalah empathy (atau empati). Aspek ini merujuk pada sejauh mana kita bisa berempati pada pandangan dan gagasan orang lain. Dan juga sejauh mana kita memiliki ketrampilan untuk bisa mendengarkan dan memahami maksud pemikiran orang lain. Kita barangkali akan bisa merajut sebuah jalinan relasi yang guyub dan meaningful kalau saja kita semua selalu dibekali dengan rasa empati yang kuat terhadap sesama rekan kita.

Demikianlah lima elemen kunci yang menurut Karl Albrecht merupakan aspek penting yang layak diperhatikan untuk bisa menenun bingkai kecerdasan emosional secara optimal. Tentu saja kita harus selalu menyempurnakan diri dalam kelima dimensi penting ini, supaya kita semua juga bisa menjadi pribadi-pribadi yang cerdas secara sosial. Dan bukan seperti orang yang kentut di pagi hari nan cerah di sebuah lift yang penuh sesak itu.

Referensi :

http://strategimanajemen.net/2009/03/02/merajut-kecerdasan-sosial/

Contoh Kasus Kecerdasan Sosial (Social Intellegence)

Melalui keluarga, saya belajar menaggapi orang lain, dan sekaligus belajar mengelola emosi. pengelolaan emosi ini sangat tergantung dari pola komunikasi yang diterapkan oleh keluarga. terutama sikap orang tua dalam mendidik dan mengasuh anaknya. dalam hal ini orang tua menjadi basis nilai bagi anak. nilai – nilai yang ditanamkan orang tua akan lebih dicerna dan dianut oleh anak. Perlakuan setiap keluarga, terutama orang tua akan direkam oleh anak dan mempengaruhi perkembangan emosi dan lambat laun akan akan membentuk kepribadiaannya. Pada kenyataannya, perkembangan emosi yang banyak dikenal dengan istilah kecerdasan emosional sering kali terabaikan oleh banyak keluarga yang memprioritaskan kecerdasan intelektual (IQ) semata. Padahal kecerdasan emosi harus dipupuk dan dan diperkuat dalam diri setiap anak, sebab kecerdasan emosi sangatlah erat kaitannya dengan kecerdasan – kecerdasan lainnya. Seperti kecerdasan sosial moral, interpersonal dan spiritual. Dengan demikian, Memperhatikan perkembangan emosi anak bukanlah hal yang mudah bagi orang tua.